Essay Pembelajaran Bahasa Arab di Era Revolusi Industri 4.0


Nama : Ayu Nur Islami
E-mail : ayunurislami98@gmail.com
No. HP : 087866706808 / 087812996870
Jurusan : Pendidikan Bahasa Arab
Instansi : Institut Agama Islam Negeri Salatiga
Mu’robnya Bahasa Arab di Era Al-Tsaurah As-Shinaiyyah Al-Arbiah
Bahasa Arab adalah salah satu bahasa Semit Tengah. Bahasa Arab dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang dan menjadi bahasa resmi dari 25 negara di dunia (https://id.m.wikipedia.org).  Bukan hanya itu, bahasa Arab juga menjadi bahasa terpenting bagi umat Islam, karena kunci dan pedoman umat islam adalah Al-Qur’an yang berbahasa Arab. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surah Yusuf/12:2
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
”Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) berbahasa Arab, agar kamu memikirkan”.
Kemudian hal yang serupa juga disebutkan dalam surah Asy-Syu’ara/26:192-195
وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)
“Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas”.
Hal di atas menjadikan faktor utama bagi eksistensi bahasa Arab. Bahasa Arab menjadi suatu hal yang harus dipelajari karena sangat berpengaruh dalam memahami agama kita, agama Islam yang mulia ini. Namun, hal ini tidak serta-merta menjadikan pembelajaran bahasa Arab memiliki penggemar yang banyak. Beberapa orang menganggap bahasa Arab adalah bahasa  yang sulit untuk dipelajari dan dipahami oleh orang-orang kalangan biasa, terutama bagi orang yang masih sangat minim pengetahuannya tentang agama yang masih asing dengan istilah-istilah dan lafadz Arab. Maka mereka menjadikan alasan ini untuk enggan mempelajari bahasa Arab. Dari kasus ini terjadilah yang namanaya eksklusifisme bahasa Arab (Sulistiyani, Al-Arabiyyah 2006:49), di mana bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang hanya wajib dipelajari oleh orang-orang yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang agama, bahkan anggapan yang paling aneh lainnya adalah tentang doktrin yang mengatakan bahwa jika salah dalam mengucapkan atau melafadzkan huruf Arab akan mendapat dosa. Hal ini tentu salah dan menyalahi ketetapan yang telah Allah jelaskan dalam surah Al-Qamar yang disebutkan pada empat ayat (ayat 17, 22, 32, dan 40) dengan lafadz yang sama yang menekankan bahwa Al-Qur’an yang berbahasa Arab adalah mudah untuk dipelajari.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
Dari ayat di atas, jelaslah bahwa sebenarnya bahasa Arab adalah bahasa yang mudah untuk dipelajari. Hanya saja egoisme, kemalasan, dan acuh tak acuh dengan masalah yang berkaitan dengan agama menjadikan sebagian orang enggan untuk bersemangat dalam mempelajari bahasa Arab. Sebagai generasi milenial, kita harusnya bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari bahasa Arab, agar ilmu para ulama tetap terwariskan dalam diri kita, agar agama Islam dapat dipahami secara kaffah dan tidak asal-asalan. Eksistensi bahasa Arab di masa mendatang tergantung bagaimana para generasi sekarang mempelajari, mempertahankan, serta mengembangkannya.
Maka dibutuhkan penanaman semangat yang tinggi kepada semua kalangan akan pentingnya belajar bahasa Arab, istilahnya mu’rob ar-ra’yu yaitu perlunya revolusi pemikiran dari anggapan-anggapan atau doktrin yang salah . Setelah kita mewanti-wanti semua orang untuk semangat belajar bahasa Arab, maka tentunya kita sebagai calon pengajar bahasa Arab juga harus memiliki banyak strategi dan teknik dalam mengajar. Hal ini dilakukan agar bahasa Arab menjadi jam pelajaran yang ditingggu-tunggu bukan sebaliknya yang menjadi momok bagi peserta didik. Begitu juga dengan para pembelajar, mereka harusnya bisa memanfaatkan seoptimal mungkin fasilitas dan media yang ada di masa al-tsaurah as-shinaiyyah al-arbiah (revolusi industry 4.0) ini.
Hal lain yang disayangkan  di masa sekarang adalah penggunaaan bahasa Arab sudah tidak lagi menjadi prioritas utama. Keberadaan bahasa Inggris yang menjadi bahasa komunikasi Internasional pertama, menjadikan tingkat kebutuhan akan bahasa Arab tergeserkan. Hal ini menjadikan kita lebih senang untuk mempelajari bahasa Inggris yang menjadi bahasa Internasional yaitu dalam rangka formalitas bahasa, namun kita justru melupakan bahasa agama kita yang agung, bahasa yang menuntun kita bukan hanya untuk meraih kesenangan dunia akan tetapi juga kesenangan akhirat.
Terpilihnya bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, menjadikan beberapa orang lebih menggiatkan dirinya untuk mendalami dan mempelajari bahasa Inggris, sehingga semangat dalam mempelajarinya menjadikan ia mudah dan cepat dalam menyerap pembelajaran tersebut. Berbeda halnya jika seseorang yang tidak menjadikan pembelajaran bahasa Arab sebagai motivasi apapun, maka akan menjadikannya sulit untuk menangkap atau memahami pembelajaran bahasa Arab. Hal inilah yang mempengaruhi sebagian orang menganggap bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang kurang penting dan sulit untuk dipelajari. Padahal sugestivitas dirinyalah yang membuatnya sulit untuk semangat dalam mempelajari bahasa Arab. Kita tahu bahwa ilmu dari segala ilmu adalah tentang cinta. Jika kita telah cinta terdahulu dengan sesuatu hal, maka apapun perintah bahkan konsekuensinya pasti akan kita lakukan dan sungguh-sungguh dalam meraihnya. Seandainya, sugesti diri kita sebanding atau bahkan lebih besar dari sugesti kita terhadap mempelajari bahasa Inggris, maka bukan tidak mungkin pembelajar dan penuntut ilmu bahasa Arab juga akan jauh lebih tinggi jumlahnya.
Bahasa Arab haruslah bermu’rob (berubah), baik dari segi metode dan sarana pembelajarannya maupun perkembangan penggunaan istilahnya harus disesuaikan dengan perkembangan masa. Jika dulu metode pembelajaran yang digunakan adalah hanya melulu dari penjelasan guru maka sekarang harus divariasikan dengan teknik-teknik yang unik seperti membawanya kepada diskusi, rihlah ta’limiyyah atau dengan game, yang lebih menitikberatkan fokus dan keaktifan peserta didik. Sehingga pembelajaran bahasa Arab akan lebih disenangi, dan mendapat tempat di hati para pembelajar atau peserta didik. Maka pembelajarannya harus dibuat ringan dan seasik mungkin. Namun, jika pembelajarannya berupa kaidah (sharaf atau nahwu) maka memang harus guru yang lebih ekstra. Dari segi sarana, pembelajaran bahasa arab juga harus bermu’rob dengan adanya media-media canggih di masa kini. Dengan hanya modal memiliki smartphone dan paket data, maka kita sudah bisa berselancar bebas menajajaki dunia. Native speaker tidak harus jauh-jauh didatangkan dari Arab atau negara-negara Timur Tengah lainnya. Kita hanya cukup mengetikkan pada tab pencarian di google, maka berbagai pilihan akan muncul. Hal ini tentunya akan berdampak efektif dan efisien pada pembelajaran. Demikian juga dari segi materi, jika dulu pembelajaran bahasa Arab dispesifikkan dan dipisahkan menjadi beberapa bidang seperti nahwu, shorof, balaghah dan lainnya, maka sekarang bisa dimixkan dengan cara mengkolaborasikan beberapa bidang tersebut terangkum dalam satu pembahasan materi sebagaimana saat ini kita kenal dalam kitab Durusul Lughah Li Ghoiri an-Natiqiina Bihaa yang di dalamnya menyajikan materi dalam bentuk hiwar atau bacaan lain yang memuat beberapa kaidah keilmuan bahasa Arab sekaligus. Maka hal ini juga menjadikan efektifitas dan efisiensi pembelajaran, karena dalam satu materi, pembelajar dibawa untuk memahami beberapa bidang sekaligus sehingga pembelajaran dirasa ringan dan menyenangkan.
  Kemudian, mu’robnya bahasa Arab juga tidak kalah penting dari sisi penggunaan istilah baru. Semua bahasa harus dikembangkan berdasarkan perkembangan zaman, termasuk bahasa Arab. Kita tidak mungkin hanya memakai kata-kata tempo dulu untuk mengungkapkan istilah di zaman al-tsaurah as-shinaiyyah al-arbiah ini. Seperti contohnya istilah ilmu kejiwaan tidak harus melulu diungkapkan dengan istilah ‘ilmu an- nafsi, tetapi juga di era sekarang lebih terkenal dengan sebutan as-sikuuluugy. Maka dibutuhkan bahasa Arab kontemporer untuk penyebutan istilah-istilah baru, apalagi di era revolusi industri ini, tentunya semakin banyak memunculkan istilah-istilah baru. Misalnya jasa go-food, gojek, grab dan masih banyak lagi harus memiliki istilah baru sendiri dalam bahasa Arab yang tidak ada atau belum tersebutkan oleh istilah dulu.
Maka inilah mu’robnya bahasa Arab. Bahasa Arab harus berevolusi menyesuaikan perkembangan masa, jika bahasa Arab hanya bersifat konstan dan mengabaikan kemajuan perkembangan zaman, maka jadilah bahasa Arab bahasa yang mabni yang jika kita biarkan akan menjadi dampak bagi eksistensi bahasa Arab itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Mahabbah

Macam-macam Problematika dan Praktik Bimbingan Konseling

Ilmu Badi' : Husnu at Ta'lil